Sabtu, 09 November 2013

Posted by poemtomystar On 19.33


 Judul buku    :   Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin
 Pengarang     :   Tereliye

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.

Daun yang jatuh tak akan membenci angin
Aku bukan daun! Dan aku tak pernah mau menjadi daun!
Aku mencintainya, itulah semua perasaanku.
Dan dia jelas-jelas bukan angin

Mencintai seseorang yang berbeda 14 tahun dengan kamu tentunya bukan sebuah dosa. Tidak ada yang salah dengan rasa cinta Tania terhadap orang itu. Dia laki-laki, baik hati, seorang malaikat bagi keluarga Tania yang hanya terdiri dari ia, ibu, dan adiknya Dede. Tania mencintainya sejak ia masih berkepang dua, ia dan Dede bertemu orang itu di sebuah bis kota saat kakinya terkena paku payung.

Sejak kejadian itu, si malaikat sering berkunjung kerumah Tania. Ia bisa dibilang menanggung seluruh biaya untuk Tania dan Dede kembali ke sekolah, memberikan modal untuk Ibu berjualan. Dia laki-laki yang baik, di rumah kontrakannya ia suka mendongeng untuk anak-anak. Tania sangat menyukainya.

Cerita dalam buku ini hanya terjadi dalam satu hari. Dari pukul 20.00 sampai pukul 09.00 keesokan paginya. Tania yang sekarang berambut hitam panjang tumbuh menjadi gadis yang sangat cerdas, cantik, tetapi sekaligus dingin. Setiap malam ia pergi ke toko buku terbesar di kotanya untuk memandangi pemandangan dari lantai dua. Sebagai ganti untuk menikmati malamnya di toko buku itu, ia selalu membeli sebuah buku yang entah kapan akan ia baca. Melalui pemandangan di jendela toko buku itu, ia mengenang tahun-tahun yang ia lalui bersama orang itu. Malam itu, Tania berniat ingin menyelesaikan suatu urusan karena sudah lama ia bersembunyi di Singapura, menyimpan perasaannya yang tidak pernah bersambut.


Beberapa quotes yang bisa diambil dari novel ini  :

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.
Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.” 
 
 “Orang yang memendam perasaan sering kli terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian disekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” 
 
 “Sebenarnya penjelasan yang lebih baik adalah karena aku sering kali berubah pikiran. Semuanya menjadi absurd. Bukan ragu-ragu atau plintat-plintut, tetapi karena memang itulah tabiat burukku sekarang, berbagai paradoks itu. Bilang iya tetapi tidak. Bilang tidak, tetapi iya. Terkadang iya dan tidak sudah tidak jelas lagi perbedaannya.”

0 komentar:

Posting Komentar