Judul buku : Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin
Pengarang : Tereliye
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.
Daun yang jatuh tak akan membenci
angin
Aku bukan daun! Dan aku tak pernah
mau menjadi daun!
Aku mencintainya, itulah semua
perasaanku.
Dan dia jelas-jelas bukan angin
Mencintai
seseorang yang berbeda 14 tahun dengan kamu tentunya bukan sebuah dosa. Tidak
ada yang salah dengan rasa cinta Tania terhadap orang itu. Dia laki-laki, baik
hati, seorang malaikat bagi keluarga Tania yang hanya terdiri dari ia, ibu, dan
adiknya Dede. Tania mencintainya sejak ia masih berkepang dua, ia dan Dede
bertemu orang itu di sebuah bis kota saat kakinya terkena paku payung.
Sejak
kejadian itu, si malaikat sering berkunjung kerumah Tania. Ia bisa dibilang
menanggung seluruh biaya untuk Tania dan Dede kembali ke sekolah, memberikan
modal untuk Ibu berjualan. Dia laki-laki yang baik, di rumah kontrakannya ia
suka mendongeng untuk anak-anak. Tania sangat menyukainya.
Cerita
dalam buku ini hanya terjadi dalam satu hari. Dari pukul 20.00 sampai pukul
09.00 keesokan paginya. Tania yang sekarang berambut hitam panjang tumbuh
menjadi gadis yang sangat cerdas, cantik, tetapi sekaligus dingin. Setiap malam
ia pergi ke toko buku terbesar di kotanya untuk memandangi pemandangan dari
lantai dua. Sebagai ganti untuk menikmati malamnya di toko buku itu, ia selalu
membeli sebuah buku yang entah kapan akan ia baca. Melalui pemandangan di
jendela toko buku itu, ia mengenang tahun-tahun yang ia lalui bersama orang
itu. Malam itu, Tania berniat ingin menyelesaikan suatu urusan karena sudah
lama ia bersembunyi di Singapura, menyimpan perasaannya yang tidak pernah
bersambut.
Beberapa quotes yang bisa diambil dari novel ini :
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.
Bahwa
hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus
mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman
yang tulus.
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian,
pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan
menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin
merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
“Orang yang memendam perasaan sering kli terjebak oleh hatinya sendiri.
Sibuk merangkai semua kejadian disekitarnya untuk membenarkan hatinya
berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun
mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata
dan mana simpul yang dusta.”
“Sebenarnya penjelasan yang lebih baik adalah karena aku sering kali
berubah pikiran. Semuanya menjadi absurd. Bukan ragu-ragu atau
plintat-plintut, tetapi karena memang itulah tabiat burukku sekarang,
berbagai paradoks itu. Bilang iya tetapi tidak. Bilang tidak, tetapi
iya. Terkadang iya dan tidak sudah tidak jelas lagi perbedaannya.”




0 komentar:
Posting Komentar