Ada
tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka
pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita
cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam
semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta
sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar,
harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.
Menceritakan kehidupan Borno, pemuda Pontianak yang lahir dari keluarga biasa saja. Ayahnya meninggal saat dia berusia 12 tahun dan selama hidupnya ia hidup hanya berdua dengan ibunya di pinggir Sungai Kapuas.
Borno
digambarkan sebagai pemuda berhati lurus dan sangat menghormati para
senior di desanya. Sewaktu dia lulus SMA, dia tidak punya uang untuk
melanjutkan kuliah. Namun Borno pantang menyerah. Dia bekerja serabutan
mengumpulkan uang demi bisa menggapai mimpinya itu. Termasuk menjadi
pengemudi sepit.
Sepit
(dari kata "speed") adalah perahu spesial yang dijadikan angkutan umum
dalam menyeberangi Sungai Kapuas. Pengemudinya biasanya sudah melakukan
pekerjaan itu bertahun-tahun dan bergabung dalam kelompok persatuan
pengemudi sepit yang dipimpin Bang Togar. Tidak sembarang orang bisa
jadi pengemudi sepit. Borno sendiri harus diuji kesabarannya oleh Bang
Togar beberapa kali sebelum akhirnya dia diizinkan masuk dalam
organisasinya.
Muncullah
Mei, gadis cantik misterius bermata sendu menawan. Perkenalan Borno
dengan gadis itu diawali dengan sepucuk angpau merah yang dijatuhkan Mei
secara sengaja di dasar sepit. Awalnya Borno mengira itu adalah surat
yang tertinggal. Tapi ternyata amplop itu adalah angpau yang berarti
isinya uang untuk membayar servis sepit si Borno.
Dari
situlah kisah cinta Borno dimulai. Dia mulai menyelidiki waktu yang
tepat saat Mei naik sepit di pagi hari. Pokoknya Borno mau Mei naik
sepitnya, yang berarti dia harus berada di antrian ke-13 setiap paginya.
Walaupun begitu, hampir tidak ada pertukaran kata di antara keduanya.
Seperti
yang saya katakan sebelumnya, ini hanya kisah sederhana. Mulai dari Koh
Acong, Cik Tulani, Andi, Bang Jauhari, dan Pak Tua. Terutama Pak Tua
dengan segala petuahnya yang lucu-lucu namun mengena. Apalagi terkadang
Borno memang suka menanyakan hal yang aneh-aneh. Tapi Pak Tua selalu
bisa memberikan jawabannya.
Menurut
saya, kehidupan sehari-hari Borno adalah daya tarik terbesar dari
cerita ini. Interaksinya dengan para pengemudi sepit, dengan Pak Tua,
dengan Andi sahabatnya yang konyol, dengan Mei, dan entah berapa banyak
orang yang muncul dalam kehidupan seorang Borno. Rasanya sangat
menyenangkan membaca kehidupan "meriah" Borno yang dikeliling oleh
orang-orang dari berbagai ras namun semuanya saling rukun dan tidak
pernah bercekcok panjang. Persaingan dianggap suatu yang menghibur,
perbedaan dianggap sesuatu yang lumrah, dan masalah seseorang dipecahkan
bersama-sama. Walau memang, akhirnya Borno bahkan tidak punya privasi
untuk kencan berdua karena banyak yang mau nonton.
Beberapa quotes yang bisa diambil dari novel ini :
"Tidak
ada yang lebih indah dibanding masa muda. Ketika kau bisa berlari
secepat yang kau mau, bisa merasakan perasaan sedalam yang kauinginkan,
tanpa takut terkena penyakit fisik atas semua itu. Maka manfaatkanlah
dengan baik masa-masa terbaik tersebut.”
“Cinta
sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat
yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu.
Apa sesuatu itu? Tentu saja bukan GPS, alat pelacak, dan sebagainya,
sesuatu itu adalah pemahaman yang baik bagaimana mengendalikan
perasaan.”
"Sejatinya,
rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kaupamer-pamerkan.
Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar,
jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya
pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.”
“Cinta
sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau
apalah namanya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang
dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita,
khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak
usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan
memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. Kalau kau tidak
bertemu, berarti bukan jodoh. Sederhana bukan?."
“Kau
tahu apa yang bisa dengan segera membuat tampang kusutmu mencair seperi
mentega lumer di penggorengan, sebal di hati pergi seperti kotoran
disapu air? Sederhana. Kau rubah-rubah sikit saja hati kau. Sedikit
saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi
dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika, wajah
kau tak kusut lagi.”
"Benci
atau suka itu relatif. Lama-lama terbiasa, lama-lama jatuh cinta. Yang
benci jadi cinta, yang cinta jadi benci. Begitulah perasaan bisa
menyesuaikan diri begitu hebat."“Berasumsi
dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan
baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan.”“Sederhana,
Nak. Kau bolak balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa
dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari
rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika wajah kau tak kusut
lagi. Dijamin berhasil.”
“Nak,
perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan
ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah
tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah
perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih
luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera
makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu."
"Banyak
sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu.
Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, lupa teman dekat, lupa
sahabat karib. Padahal siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita
itu? Kebanyakan orang asing, orang baru."
"Kalau
hati kita sedang banyak pikiran, gelisah, ingatlah kita selalu punya
teman dekat. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya diabaikan.
Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kita dengan teman
terbaik, maka semua akan lebih ringan."
“Ketika
situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan
pernah merusak diri sendiri. Boleh jadi ketika seseorang yang kita
sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi
kau masih memiliki separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut
merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang
paling berharga
“Kalian tahu, cinta sejati laksana
sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin
lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak
sungai perasaan yang bertemu. Cinta sejati adalah perjalanan. Cinta sejati
tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara.
Air di laut akan menguap, menjadi hujan turun di gunung-gunung
tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai perasaan, lantas menyatu
menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti, begitu pula cinta. Nah,
siklus sungai Kapuas ini jauh lebih abadi dibanding cinta gombal
manusia. Beribu tahun tetap ada disini, meski airnya semakin keruh.
Sedangkan cinta gombal kita? Jangan bilang kematian, bahkan jarak dan
waktu sudah bisa memutusnya."
“Jangan
sekali-kali kaubiarkan prasangka jelak, negatif, buruk, apalah namanya
itu muncul di hati kau. Dalam urusan ini, selalulah berprasangka
positif. Selalulah berharap yang terbaik. Karena dengan berprasangka
baik saja, hati kau masih ketar-ketir memendam duga, menyusun harap,
apalagi dengan prasangka negatif, tambah kusut lagi perasaan kau. Aku
tahu rasa kecewa, tetapi jangan biarkan terlalu. Aku tahu rasa sedih,
tapi jangan biarkan menganga dalam. Esok lusa boleh jadi ada penjelasan
yang lebih baik."
“Perasaan
adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan
putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera
makan, kehilangan semangat, hebat sekali benda bernama perasaan itu.
Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia
sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram
padahal dunia sedang terang benderang.”
“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati.
Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan
kau suka makan bakso, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa
mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi
lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau
cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu
seperti kau bosan makan bakso.”
“Tahukah kau, untuk membuat seseorang
menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal
menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan
merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya
dia rasakan.”
“Kau tahu, Andi, dari begitu banyak kalimat bijak tentang cinta yang
kaucatat berbulan-bulan ini, untuk orang seperti kau, cukup camkan saja
kalimat yang satu ini, sisanya lupakan. Camkan cinta adalah perbuatan.
Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa
sedikit pun rasa cinta, Andi. Tetapi kau tidak akan pernah bisa
mencintai tanpa selalu memberi.”“Kalian tahu, cinta itu beda-beda tipis dengan musik yang indah. Ya,
cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu
tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti. Walaupun musik
usai, hatimu kan slalu menari."
“Kalau memang terlihat rumit lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sederhana."“Langit selalu mempunyai skenario terbaik, saat belum terjadi maka bersabarlah.“
“Untuk
orang-orang yang jujur atas kehidupan,
bekerja keras, dan sederhana, definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang
amat berbeda, amat menakjubkan”
“Ah, cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri.” "Terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus sabar menunggu rencana
terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan."
"Nasehat atau saran yang baik itu kadang mahal sekali harganya.
Bukan karena kita harus membayarnya mahal, banyak nasehat itu justeru
gratis.




0 komentar:
Posting Komentar